Pembentukan Panitia Pilkades Sukorejo
Kodim Sragen – Pembentukan Panitia Pilkades Sukorejo
Selasa, 18 Juni 2019 Pkl.20.00 – 22.10 Wib, Pelda I Ketut Kariana mewakil Danramil menghadiri kegiatan rakoor dalam rangka Pembentukan Panitia Pilkades Desa Sukorejo yg bertempat di Aula Balai Pendopo Desa Sukorejo.
Adapun undangan yang hadir dalam kegiatan tsb Muspika dan yang mewakili, Kepala Desa Sukorejo, Perangkat Desa Sambi, Ketua & Anggota BPD, Tomas & Toga sedesa Sambi.
Dalam sambutannya selamat datang Bp. Agus Supriyadi selaku Pejabat Sementara Kepala Desa Sukorejo & Ketua Panitia mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas nikmat yg kita terima selama ini serta ucapan selamat datang kpd semua hadirin yg telah meluangkan waktunya utk hadir dlm giat Rakoor pembentukan panitia pilkades disiang hari ini.
“ Mohon kepada bpk Camat untuk memberikan arahan kepada semuanya demi kelancaran panitia dalam melaksanakan tugas pilkades yg akan dilaksanakan serentak se kabupaten Sragen besuk pada hari kamis Tgl 26 September 2019 “ pintanya.
Nugroho Dwi Wibowo. SSTP selaku Bp.Camat menjelaskan untuk daftar pemilih tolong betul betul dicermati jangan sampai ada mesalah, utk ketentuan umur pemilih sama dg pilbub dan pemilihan yg lainnya contoh minimal umur 17 tahun dan atau bagi warga yg sudah menikah dan bedanya pemilih pilkades dg pilpres, kalau pilkades harus sesuai dg daftar pemilih dan utk pilpres asal punya E-KTP dan tdk terdaftar di daftar pemilih bisa menjadi pemilih, krn hal itu sangat krusial serta daftar pemilih itu merupakan nyawa dari pada pilkades.
Masalah TPS yg ada di lokasi jangan sampai ada pemilih ganda, utk TPS tetap satu kebayanan di satu lokasi, krn msh didapati satu lokasi TPS masih ada lbh dari 2000 hak pilih, mohon hal tersebut di hindari dan hrs dikurangi dg cara mengikut sertakan TPS yg dekat lokasi.
“ Untuk surat suara yg akan di coblos sekarang bukan gambar buah spt ketela, kelapa, padi Dll, tapi sekarang gampar foto calon, dan di tempat kita mohon utk setiap foto calon kepala desa agar menggunakan background yg berbeda – beda. krn untuk mengantisipasi Calon yg militan harus pakai pakaian kejawen, seandainya calon menggunakan pakaian yg sama maka masyarakat akan kesulitan utk membedakan calon satu sama lainnya “ ujarnya.













