Senin,21 Mei 2018 pukul 07.30 s/d 08.10
bertempat di halaman Pemda Kab. Sragen telah di laksanakan Upacara Bendera
dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke 110 th 2018 Kab. Sragen
dengan tema ” Pembangunan Sumber Daya Manusia Memperkuat Pondasi
Kebangkitan Nasional Indonesia Di Era Digital “, sebagai Irup dr.
Hj. Kusdinar Untung Yuni Sukowati (Bupati Sragen) dan Danup Riyadi
Nugoho, Sp ( Kasi Tanaman Tahunan Dinas Pertanian), sebagai
penyelenggara kegiatan Kesbangpollinmas yang di ikuti lk 450 orang.
bertempat di halaman Pemda Kab. Sragen telah di laksanakan Upacara Bendera
dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke 110 th 2018 Kab. Sragen
dengan tema ” Pembangunan Sumber Daya Manusia Memperkuat Pondasi
Kebangkitan Nasional Indonesia Di Era Digital “, sebagai Irup dr.
Hj. Kusdinar Untung Yuni Sukowati (Bupati Sragen) dan Danup Riyadi
Nugoho, Sp ( Kasi Tanaman Tahunan Dinas Pertanian), sebagai
penyelenggara kegiatan Kesbangpollinmas yang di ikuti lk 450 orang.
Hadir dalam kegiatan tersebut dr.
Hj. Kusdinar Untung Yuni Sukowati (Bupati Sragen), Deddy Endriyatno (
Wakil Bupati Sragen ), Mayor Inf. Danu Prasetyo ( Kasdim 0725/Sragen mewakili
Dandim 0725/Sragen ), AKP Suseno, SH, M.Si ( Kapolsek Sragen Kota mewakili
Kapolres Sragen ), Kapten Cpm Eko Heriyanto (Dansubdenpom IV/4-1 Sragen), Lettu
inf Saroji ( mewakili dan yonif Raider 408 / Sbh ), Tatag Prabawanto B. MM (
Sekda Sragen ) serta Murdi, SH ( mewakili Kajari )
Hj. Kusdinar Untung Yuni Sukowati (Bupati Sragen), Deddy Endriyatno (
Wakil Bupati Sragen ), Mayor Inf. Danu Prasetyo ( Kasdim 0725/Sragen mewakili
Dandim 0725/Sragen ), AKP Suseno, SH, M.Si ( Kapolsek Sragen Kota mewakili
Kapolres Sragen ), Kapten Cpm Eko Heriyanto (Dansubdenpom IV/4-1 Sragen), Lettu
inf Saroji ( mewakili dan yonif Raider 408 / Sbh ), Tatag Prabawanto B. MM (
Sekda Sragen ) serta Murdi, SH ( mewakili Kajari )
Dalam sambutannya sambutannya Menteri
Komunikasi dan Infornatika RI, yang di bacakan oleh Irup yang mengatakan saudara-saudara
peserta upacara yang saya hormati, Ketika rakyat berinisiatif untuk berjuang
demi meraih kemerdekaan dengan membentuk berbagai perkumpulan, lebih dari
seabad lalu, kita nyaris tak punya apa-apa. Kita hanya memiliki semangat dalam
jiwa dan kesiapan mempertaruhkan nyawa. Namun sejarah kemudian membuktikan
bahwa semangat dan komitmen itu saja telah cukup, asalkan kita bersatu dalam cita-cita
yang sama: kemerdekaan bangsa. Bersatu, adalah kata kunci ketika kita
ingin menggapai cita-cita yang sangat mulia namun pada saat yang sama tantangan
yang mahakuat menghadang di depan. Boedi Oetomo memberi contoh bagaimana dengan
berkumpul dan berorganisasi tanpa melihat asal-muasal primordial akhirnya bisa
mendorong tumbuhnya semangat nasionalisme yang menjadi bahan bakar utama
kemerdekaan.
Komunikasi dan Infornatika RI, yang di bacakan oleh Irup yang mengatakan saudara-saudara
peserta upacara yang saya hormati, Ketika rakyat berinisiatif untuk berjuang
demi meraih kemerdekaan dengan membentuk berbagai perkumpulan, lebih dari
seabad lalu, kita nyaris tak punya apa-apa. Kita hanya memiliki semangat dalam
jiwa dan kesiapan mempertaruhkan nyawa. Namun sejarah kemudian membuktikan
bahwa semangat dan komitmen itu saja telah cukup, asalkan kita bersatu dalam cita-cita
yang sama: kemerdekaan bangsa. Bersatu, adalah kata kunci ketika kita
ingin menggapai cita-cita yang sangat mulia namun pada saat yang sama tantangan
yang mahakuat menghadang di depan. Boedi Oetomo memberi contoh bagaimana dengan
berkumpul dan berorganisasi tanpa melihat asal-muasal primordial akhirnya bisa
mendorong tumbuhnya semangat nasionalisme yang menjadi bahan bakar utama
kemerdekaan.
Boedi Oetomo menjadi salah satu penanda
utama bahwa bangsa Indonesia untuk pertama kali menyadari pentingnya persatuan
dan kesatuan. Presiden Pertama dan Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia,
Soekarno, pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 1952 mengatakan
bahwa: “Pada hari itu kita mulai memasuki satu cara baru untuk melaksanakan
satu ‘idee’, satu naluri pokok daripada bangsa Indonesia. Naluri pokok ingin
merdeka, naluri pokok ingin hidup berharkat sebagai manusia dan sebagai bangsa.
Cara baru itu ialah cara mengejar sesuatu maksud dengan alat organisasi
politik, cara berjuang dengan perserikatan dan perhimpunan politik, cara
berjuang dengan tenaga persatuan.” Seratus sepuluh tahun kemudian bangsa
ini telah tumbuh menjadi bangsa yang besar dan maju, sejajar dengan
bangsa-bangsa lain. Meski belum sepenuhnya sempurna, rakyatnya telah menikmati
hasil perjuangan para pahlawannya berupa meningkatnya perekonomian, kesehatan,
pendidikan, dan sebagainya. Keringat dan darah pendahulu bangsa telah menjelma
menjadi hamparan permadani perikehidupan yang nyaman dalam rengkuhan kelambu
kemerdekaan.
utama bahwa bangsa Indonesia untuk pertama kali menyadari pentingnya persatuan
dan kesatuan. Presiden Pertama dan Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia,
Soekarno, pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 1952 mengatakan
bahwa: “Pada hari itu kita mulai memasuki satu cara baru untuk melaksanakan
satu ‘idee’, satu naluri pokok daripada bangsa Indonesia. Naluri pokok ingin
merdeka, naluri pokok ingin hidup berharkat sebagai manusia dan sebagai bangsa.
Cara baru itu ialah cara mengejar sesuatu maksud dengan alat organisasi
politik, cara berjuang dengan perserikatan dan perhimpunan politik, cara
berjuang dengan tenaga persatuan.” Seratus sepuluh tahun kemudian bangsa
ini telah tumbuh menjadi bangsa yang besar dan maju, sejajar dengan
bangsa-bangsa lain. Meski belum sepenuhnya sempurna, rakyatnya telah menikmati
hasil perjuangan para pahlawannya berupa meningkatnya perekonomian, kesehatan,
pendidikan, dan sebagainya. Keringat dan darah pendahulu bangsa telah menjelma
menjadi hamparan permadani perikehidupan yang nyaman dalam rengkuhan kelambu
kemerdekaan.
Kalau sekarang bangsa ini punya hampir
segala yang dibutuhkan, seharusnya kita terinspirasi bahwa dengan kondisi
embrio bangsa seabad lalu yang berada dalam rundungan kepapaan pun, kita telah
mampu menghasilkan energi yang dahsyat untuk membawa kepada kejayaan. Apalagi
kini, ketika kita jauh lebih siap, tak berkekurangan dalam sumber daya alam dan
sumber daya manusia.
segala yang dibutuhkan, seharusnya kita terinspirasi bahwa dengan kondisi
embrio bangsa seabad lalu yang berada dalam rundungan kepapaan pun, kita telah
mampu menghasilkan energi yang dahsyat untuk membawa kepada kejayaan. Apalagi
kini, ketika kita jauh lebih siap, tak berkekurangan dalam sumber daya alam dan
sumber daya manusia.
Butir kelima dari Nawacita Kabinet
Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla berisi visi untuk
meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas
pendidikan dan pelatihan. Pada awal tahun ini, visi tersebut mendapat penekanan
lebih melalui amanat Presiden Joko Widodo yang menyatakan bahwa pemerintah akan
meningkatkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) pada tahun 2019, melanjutkan
percepatan pembangunan infrastruktur yang menjadi fokus pada tahun-tahun
sebelumnya. Melalui pembangunan manusia yang terampil dan terdidik, pemerintah
ingin meningkatkan daya saing ekonomi dan secara simultan meningkatkan
kapasitas sumber daya manusianya. Kekayaan alam merupakan sumber daya
yang terbatas. Butuh segudang prasyarat untuk bisa dieksploitasi, dan selalu
ada limit untuk menggenjot pemanfaatannya. Sedangkan sumber daya manusia kita
menyediakan kapasitas dan kapabilitas yang sangat luas untuk dikembangkan.
Kebangkitan sumber daya manusia Indonesia secara bersama-sama dan kompak, tanpa
terdistraksi oleh godaan-godaan yang kontraproduktif, akan membawa kepada
kejayaan bangsa, selain secara otomatis bagi individu-individunya
sendiri.
Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla berisi visi untuk
meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas
pendidikan dan pelatihan. Pada awal tahun ini, visi tersebut mendapat penekanan
lebih melalui amanat Presiden Joko Widodo yang menyatakan bahwa pemerintah akan
meningkatkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) pada tahun 2019, melanjutkan
percepatan pembangunan infrastruktur yang menjadi fokus pada tahun-tahun
sebelumnya. Melalui pembangunan manusia yang terampil dan terdidik, pemerintah
ingin meningkatkan daya saing ekonomi dan secara simultan meningkatkan
kapasitas sumber daya manusianya. Kekayaan alam merupakan sumber daya
yang terbatas. Butuh segudang prasyarat untuk bisa dieksploitasi, dan selalu
ada limit untuk menggenjot pemanfaatannya. Sedangkan sumber daya manusia kita
menyediakan kapasitas dan kapabilitas yang sangat luas untuk dikembangkan.
Kebangkitan sumber daya manusia Indonesia secara bersama-sama dan kompak, tanpa
terdistraksi oleh godaan-godaan yang kontraproduktif, akan membawa kepada
kejayaan bangsa, selain secara otomatis bagi individu-individunya
sendiri.
Oleh sebab itu tema “PEMBANGUNAN SUMBER
DAYA MANUSIA MEMPERKUAT PONDASI KEBANGKITAN NASIONAL INDONESIA DALAM ERA
DIGITAL” dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2018, ini harus
dimaknai dengan upayaupaya penyadaran setiap masyarakat Indonesia, untuk
mengembangkan diri dan merebut setiap peluang untuk meningkatkan kapasitas diri
yang dibuka oleh berbagai pihak, baik oleh pemerintah, badan usaha, maupun
masyarakat sendiri. Pengembangan kapasitas sumber daya manusia juga harus
diletakkan dalam konteks pemerataan dalam pengertian kewilayahan, agar bangsa
ini bangkit secara bersama-sama dalam kerangka kebangsaan Indonesia. Bung
Karno juga menggambarkan persatuan bangsa seperti layaknya sapu lidi. Jika
tidak diikat, maka lidi tersebut akan tercerai berai, tidak berguna dan mudah
dipatahkan. Tetapi jikalau lidi-lidi itu digabungkan, diikat menjadi sapu, mana
ada manusia bisa mematahkan sapu lidi yang sudah terikat? Gambaran
tersebut aktual sekali pada masa sekarang ini. Kita merasakan bahwa ada
kekuatan-kekuatan yang berusaha merenggangkan ikatan sapu lidi kita. Kita
disuguhi hasutan-hasutan yang membuat kita bertikai dan tanpa sadar mengiris
ikatan yang sudah puluhan tahun menyatukan segala perbedaan tersebut.
DAYA MANUSIA MEMPERKUAT PONDASI KEBANGKITAN NASIONAL INDONESIA DALAM ERA
DIGITAL” dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2018, ini harus
dimaknai dengan upayaupaya penyadaran setiap masyarakat Indonesia, untuk
mengembangkan diri dan merebut setiap peluang untuk meningkatkan kapasitas diri
yang dibuka oleh berbagai pihak, baik oleh pemerintah, badan usaha, maupun
masyarakat sendiri. Pengembangan kapasitas sumber daya manusia juga harus
diletakkan dalam konteks pemerataan dalam pengertian kewilayahan, agar bangsa
ini bangkit secara bersama-sama dalam kerangka kebangsaan Indonesia. Bung
Karno juga menggambarkan persatuan bangsa seperti layaknya sapu lidi. Jika
tidak diikat, maka lidi tersebut akan tercerai berai, tidak berguna dan mudah
dipatahkan. Tetapi jikalau lidi-lidi itu digabungkan, diikat menjadi sapu, mana
ada manusia bisa mematahkan sapu lidi yang sudah terikat? Gambaran
tersebut aktual sekali pada masa sekarang ini. Kita merasakan bahwa ada
kekuatan-kekuatan yang berusaha merenggangkan ikatan sapu lidi kita. Kita
disuguhi hasutan-hasutan yang membuat kita bertikai dan tanpa sadar mengiris
ikatan yang sudah puluhan tahun menyatukan segala perbedaan tersebut.
Padahal inilah masa yang sangat
menentukan bagi kita. Inilah era yang menuntut kita untuk tidak buang-buang
waktu demi mengejar ketertinggalan dengan bangsa-bangsa lain. Momentum sekarang
ini menuntut kita untuk tidak buang-buang energi untuk bertikai dan lebih fokus
pada pendidikan dan pengembangan manusia Indonesia. Proyeksi keuntungan
bonus demografi itu akan tinggal menjadi proyeksi jika kita tak dapat
memaksimalkannya. Usia produktif hanya akan tinggal menjadi catatan tentang
usia daripada catatan tentang produktivitas, jika mutu sumber daya manusia
produktif pada tahun-tahun puncak bonus demografi tersebut tidak dapat
mengungkit mesin pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu Bapak Presiden Joko Widodo
dalam berbagai kesempatan selalu mendorong dunia pendidikan, bekerja sama
dengan industri dan bisnis, untuk mencari terobosan-terobosan baru dalam
pendidikan vokasi. Jurusan-jurusan baru, baik di tingkat pendidikan tinggi
maupun juga di tingkat menengah, yang berkaitan dengan keahlian dan ilmu
terapan, harus selalu diciptakan untuk memasok industri akan tenaga terampil
yang siap kerja.
menentukan bagi kita. Inilah era yang menuntut kita untuk tidak buang-buang
waktu demi mengejar ketertinggalan dengan bangsa-bangsa lain. Momentum sekarang
ini menuntut kita untuk tidak buang-buang energi untuk bertikai dan lebih fokus
pada pendidikan dan pengembangan manusia Indonesia. Proyeksi keuntungan
bonus demografi itu akan tinggal menjadi proyeksi jika kita tak dapat
memaksimalkannya. Usia produktif hanya akan tinggal menjadi catatan tentang
usia daripada catatan tentang produktivitas, jika mutu sumber daya manusia
produktif pada tahun-tahun puncak bonus demografi tersebut tidak dapat
mengungkit mesin pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu Bapak Presiden Joko Widodo
dalam berbagai kesempatan selalu mendorong dunia pendidikan, bekerja sama
dengan industri dan bisnis, untuk mencari terobosan-terobosan baru dalam
pendidikan vokasi. Jurusan-jurusan baru, baik di tingkat pendidikan tinggi
maupun juga di tingkat menengah, yang berkaitan dengan keahlian dan ilmu
terapan, harus selalu diciptakan untuk memasok industri akan tenaga terampil
yang siap kerja.
Alhamdulillah, kita mencatat bahwa tak
sedikit anak muda kreatif yang mampu menaklukkan gelombang digitalisasi dengan
cara mencari berkah di dalamnya. Internet, media sosial, situs web, layanan
multimedia aplikasi ponsel, mereka jadikan ladang baru buat berkarya, dan pasar
yang menjanjikan bagi kreativitas. Banyak kreator konten dan pengembang
aplikasi Indonesia yang mendunia, mendapatkan apresiasi baik material maupun
non-material. Mari bersama-sama kita jauhkan dunia digital dari
anasir-anasir pemecah-belah dan konten-konten negatif, agar anak-anak kita bebas
berkreasi, bersilaturahmi, berekspresi, dan mendapatkan manfaat darinya. Tidak
ada satu pihak yang tanggung jawabnya lebih besar daripada yang lain untuk hal
ini. Pepatah Aceh mengatakan: Piku/an satu dipikul berdua, rapat-rapat seperti
biji timun suri. Artinya kira-kira: Kita harus menjaga persatuan dalam
memecahkan masalah, harus berbagi beban yang sama, merapatkan barisan, jangan
sampai terpecah-belah. Demikian juga, dalam konteks menghadapi digitalisasi
ini, kita semua harus dalam irama yang serempak dalam memecahkan masalah dan
menghadapi para pencari masalah.
sedikit anak muda kreatif yang mampu menaklukkan gelombang digitalisasi dengan
cara mencari berkah di dalamnya. Internet, media sosial, situs web, layanan
multimedia aplikasi ponsel, mereka jadikan ladang baru buat berkarya, dan pasar
yang menjanjikan bagi kreativitas. Banyak kreator konten dan pengembang
aplikasi Indonesia yang mendunia, mendapatkan apresiasi baik material maupun
non-material. Mari bersama-sama kita jauhkan dunia digital dari
anasir-anasir pemecah-belah dan konten-konten negatif, agar anak-anak kita bebas
berkreasi, bersilaturahmi, berekspresi, dan mendapatkan manfaat darinya. Tidak
ada satu pihak yang tanggung jawabnya lebih besar daripada yang lain untuk hal
ini. Pepatah Aceh mengatakan: Piku/an satu dipikul berdua, rapat-rapat seperti
biji timun suri. Artinya kira-kira: Kita harus menjaga persatuan dalam
memecahkan masalah, harus berbagi beban yang sama, merapatkan barisan, jangan
sampai terpecah-belah. Demikian juga, dalam konteks menghadapi digitalisasi
ini, kita semua harus dalam irama yang serempak dalam memecahkan masalah dan
menghadapi para pencari masalah.
Dulu kita bisa, dengan keterbatasan
akses pengetahuan dan informasi, dengan keterbatasan teknologi untuk
berkomunikasi, berhimpun dan menyatukan pikiran untuk memperjuangkan kedaulatan
bangsa. Seharusnya sekarang kita juga bisa, sepikul berdua, menjaga dunia yang
serbadigital ini, agar menjadi wadah yang kondusif bagi perkembangan budi
pekerti yang seimbang dengan pengetahuan dan keterampulan generadi penerus
kita.
akses pengetahuan dan informasi, dengan keterbatasan teknologi untuk
berkomunikasi, berhimpun dan menyatukan pikiran untuk memperjuangkan kedaulatan
bangsa. Seharusnya sekarang kita juga bisa, sepikul berdua, menjaga dunia yang
serbadigital ini, agar menjadi wadah yang kondusif bagi perkembangan budi
pekerti yang seimbang dengan pengetahuan dan keterampulan generadi penerus
kita.












