Sragen, 10 November 2016
Gabungan Anggota Kodim 0725/Sragen, Subdenpom
Sragen dan Minvet Sragen melaksanakan upacara bendera dalam rangka memperingati
hari Pahlawan dilanjutkan Laporan korp raport masuk satuan dan MPP Peltu
Muhyono Anggota Koramil-01/Sragen bertempat di Lapangan Makodim 0725/Sragen,
Kamis ( 10/11/16 ) bertindak sebagai Irup Komandan Kodim 0725/Sragen Letkol
Inf. Denny Marantika.
Sragen dan Minvet Sragen melaksanakan upacara bendera dalam rangka memperingati
hari Pahlawan dilanjutkan Laporan korp raport masuk satuan dan MPP Peltu
Muhyono Anggota Koramil-01/Sragen bertempat di Lapangan Makodim 0725/Sragen,
Kamis ( 10/11/16 ) bertindak sebagai Irup Komandan Kodim 0725/Sragen Letkol
Inf. Denny Marantika.
Amanat Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawangsa yang
dibacakan Irup : Setiap tanggal 10 November, Bangsa Indonesia memperingati Hari
Pahlawan, sebagai momen reflektif untuk memberi makna atas pengorbanan para
pahlawan kusuma bangsa, dengan menyalakan jiwa kepahlawanan dalam perjuangan
mengisi kemerdekaan. Peringatan tersebut didasarkan pada peristiwa
“Pertempuran 10 November 1945” di Surabaya, sebagai pertempuran
pertama dan terbesar antara pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah
proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, dengan memakan korban jiwa yang sangat
besar. peringatan Hari Pahlawan harus mampu menggali apinya, bukan abunya.
Dengan meminjam ungkapan Bung Karno, semangat kepahlawanan itu adalah semangat
rela berjuang, berjuang mati-matian dengan penuh idealisme dengan mengutamakan
kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Semangat Kepahlawanan adalah
semangat persatuan, persatuan yang bulat-mutak dengan tiada mengecualikan
sesuatu golongan dan lapisan. Semangat Kepahlawanan adalah semangat membentuk
dan membangun negara.
dibacakan Irup : Setiap tanggal 10 November, Bangsa Indonesia memperingati Hari
Pahlawan, sebagai momen reflektif untuk memberi makna atas pengorbanan para
pahlawan kusuma bangsa, dengan menyalakan jiwa kepahlawanan dalam perjuangan
mengisi kemerdekaan. Peringatan tersebut didasarkan pada peristiwa
“Pertempuran 10 November 1945” di Surabaya, sebagai pertempuran
pertama dan terbesar antara pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah
proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, dengan memakan korban jiwa yang sangat
besar. peringatan Hari Pahlawan harus mampu menggali apinya, bukan abunya.
Dengan meminjam ungkapan Bung Karno, semangat kepahlawanan itu adalah semangat
rela berjuang, berjuang mati-matian dengan penuh idealisme dengan mengutamakan
kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Semangat Kepahlawanan adalah
semangat persatuan, persatuan yang bulat-mutak dengan tiada mengecualikan
sesuatu golongan dan lapisan. Semangat Kepahlawanan adalah semangat membentuk
dan membangun negara.
Setelah Indonesia merebut kemerdekaannya, Semangat
Kepahlawanan tidak cukup hanya dengan mempertahankan patriotisme defensif, kita
butuh patriotisme yang lebih positif dan progresif. Patriotisme sejati bukan
sekadar mempertahankan melainkan juga memperbaiki keadaan negeri. Untuk keluar
dari berbagai persoalan bangsa hari ini, patriotisme progresif dituntut
menghadirkan kemandirian bangsa tanpa terperosok pada sikap anti-asing.
Saudara-saudara para patriot bangsa yang budiman, Dalam rangka mencapai perikehidupan
kebangsaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, patriotisme
progresif harus mengem bangkan ketahanan bangsa untuk bisa mandiri dalam
ekonomi, berdaulat dalam bidang politik dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Sejalan dengan orientasi Trisakti tersebut, Pemerintahan Presiden Jokowi dan
Wakil Presiden H M. Jusuf Kalla hadir dengan menawarkan VISI transformatif:
“Terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian
berlandaskan gotong-royong.
Kepahlawanan tidak cukup hanya dengan mempertahankan patriotisme defensif, kita
butuh patriotisme yang lebih positif dan progresif. Patriotisme sejati bukan
sekadar mempertahankan melainkan juga memperbaiki keadaan negeri. Untuk keluar
dari berbagai persoalan bangsa hari ini, patriotisme progresif dituntut
menghadirkan kemandirian bangsa tanpa terperosok pada sikap anti-asing.
Saudara-saudara para patriot bangsa yang budiman, Dalam rangka mencapai perikehidupan
kebangsaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, patriotisme
progresif harus mengem bangkan ketahanan bangsa untuk bisa mandiri dalam
ekonomi, berdaulat dalam bidang politik dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Sejalan dengan orientasi Trisakti tersebut, Pemerintahan Presiden Jokowi dan
Wakil Presiden H M. Jusuf Kalla hadir dengan menawarkan VISI transformatif:
“Terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian
berlandaskan gotong-royong.
Dalam kerangka mewujudkan visi tersebut telah dirumuskan
sembilan agenda prioritas pemerintahan ke depan yang disebut NAWA CITA.
Kesembilan agenda prioritas itu bisa dikategorisasikan ke dalam tiga ranah,
ranah mental-kultural, ranah material (ekonomi) dan ranah politik. Pada ketiga
ranah tersebut, Pemerintah saat ini berusaha melakukan berbagai perubahan
secara akseleratif berlandaskan prinsip-prinsip Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ketiga ranah pembangunan tersebut
bisa dibedakan tapi tak dapat dipisahkan. Satu sama lain saling memerlukan
pertautan secara sinergis. Perubahan mental-kultural memerlukan dukungan
politik dan material berupa politik kebudayaan dan ekonomi budaya. Sebaliknya
perubahan politik memerlukan dukungan budaya dan material berupa budaya
demokrasi dan ekonomi politik. Begitupun perubahan material memerlukan dukungan
budaya dan politik berupa budaya ekonomi dan politik ekonomi.
sembilan agenda prioritas pemerintahan ke depan yang disebut NAWA CITA.
Kesembilan agenda prioritas itu bisa dikategorisasikan ke dalam tiga ranah,
ranah mental-kultural, ranah material (ekonomi) dan ranah politik. Pada ketiga
ranah tersebut, Pemerintah saat ini berusaha melakukan berbagai perubahan
secara akseleratif berlandaskan prinsip-prinsip Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ketiga ranah pembangunan tersebut
bisa dibedakan tapi tak dapat dipisahkan. Satu sama lain saling memerlukan
pertautan secara sinergis. Perubahan mental-kultural memerlukan dukungan
politik dan material berupa politik kebudayaan dan ekonomi budaya. Sebaliknya
perubahan politik memerlukan dukungan budaya dan material berupa budaya
demokrasi dan ekonomi politik. Begitupun perubahan material memerlukan dukungan
budaya dan politik berupa budaya ekonomi dan politik ekonomi.
Dalam Amanat Presiden pada Ulang Tahun Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1956, setahun setelah Pemilihan Umum pertama tahun 1955, Bung Karno
menjelaskan tiga fase revolusi bangsa. Dua fase telah dilalui dengan berhasil,
dan satu fase lagi menghadang sebagai tantangan. Indonesia telah melewati
“Taraf physical revolution”dan “taraf survival” Lantas Bung
Karno tandaskan, “Sekarang kita berada pada taraf investment, yaitu taraf
menanamkan modal-modal dalam arti yang seluas-luasnya.
Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1956, setahun setelah Pemilihan Umum pertama tahun 1955, Bung Karno
menjelaskan tiga fase revolusi bangsa. Dua fase telah dilalui dengan berhasil,
dan satu fase lagi menghadang sebagai tantangan. Indonesia telah melewati
“Taraf physical revolution”dan “taraf survival” Lantas Bung
Karno tandaskan, “Sekarang kita berada pada taraf investment, yaitu taraf
menanamkan modal-modal dalam arti yang seluas-luasnya.
Gerakan revolusi mental diharapkan bisa mendorong Gerakan
Hidup Baru, dalam bentuk : Perombakan cara berfikir, cara kerja, cara hidup,
yang merintangi kemajuan. Peningkatan dan pembangunan cara berfikir, cara
kerja, dan cara hidup yang baik. Singkat kata, Gerakan Hidup Baru adalah
gerakan revolusi mental “untuk menggembleng manusia Indonesia ini menjadi
manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat Elang Rajawali.
jiwa api yang menyala-nyala.”
Hidup Baru, dalam bentuk : Perombakan cara berfikir, cara kerja, cara hidup,
yang merintangi kemajuan. Peningkatan dan pembangunan cara berfikir, cara
kerja, dan cara hidup yang baik. Singkat kata, Gerakan Hidup Baru adalah
gerakan revolusi mental “untuk menggembleng manusia Indonesia ini menjadi
manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat Elang Rajawali.
jiwa api yang menyala-nyala.”
Melalui momentum Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2016
yang dilaksanakan dengan berbagai kegiatan, kita dapat mengambil makna yang
terkandung didalamnya dengan meneladani nilai-nilai luhur yang divariskan
kepada kita semua seperti taqwa kepada Tuhan YME, pantang menyerah, jujur dan
adil, percaya kepada kemampuan sendiri serta kerja keras untuk membangun
Indonesia yang sejahtera sebagaimana cita-cita para Pahlawan Bangsa.
yang dilaksanakan dengan berbagai kegiatan, kita dapat mengambil makna yang
terkandung didalamnya dengan meneladani nilai-nilai luhur yang divariskan
kepada kita semua seperti taqwa kepada Tuhan YME, pantang menyerah, jujur dan
adil, percaya kepada kemampuan sendiri serta kerja keras untuk membangun
Indonesia yang sejahtera sebagaimana cita-cita para Pahlawan Bangsa.
Kepada
Anggota yang MPP Dandim mengucapkan terimakasih atas darma baktinya selama
berdinas di Kodim 0725/Sragen, jalin komunikasi yang baik dengan masyarakat
tetap jaga silahturrahmi dengan keluarga besar Kodim 0725/Sragen, Dandim juga memberikan Piagam penghargaan sebagai
bentuk ucapan terima kasih dan bentuk penghormatan yang diberikan atas
pengabdian yang sudah diberikan Peltu Muhyono selama ini. Selesai pelaksanaan
upacara dilanjutkan dengan memberikan ucapan selamat dan berjabat tangan kepada
anggota yang akan melaksanakan MPP diikuti seluruh Perwita Staf dan seluruh
peserta upacara.
Anggota yang MPP Dandim mengucapkan terimakasih atas darma baktinya selama
berdinas di Kodim 0725/Sragen, jalin komunikasi yang baik dengan masyarakat
tetap jaga silahturrahmi dengan keluarga besar Kodim 0725/Sragen, Dandim juga memberikan Piagam penghargaan sebagai
bentuk ucapan terima kasih dan bentuk penghormatan yang diberikan atas
pengabdian yang sudah diberikan Peltu Muhyono selama ini. Selesai pelaksanaan
upacara dilanjutkan dengan memberikan ucapan selamat dan berjabat tangan kepada
anggota yang akan melaksanakan MPP diikuti seluruh Perwita Staf dan seluruh
peserta upacara.













