Kodim Sragen – Perundungan bisa terjadi sama siapa, kapandan dimana saja, tidak terkecuali juga pada anak usia dini. Perundungan ini bisamengakibatkan pemikiran dan mental anak menjadi terganggu sehingga mereka rentan untukmengalami stres. Kedepannya bisa saja anak menjadi lemah dan kurang percaya diri dalam melakukan suatu tindakan atau mengambil keputusan dalam hidupnya dan masih banyak dampak negative lainnya.
Untuk itu Serka Daryanto Babinsa Kel. Sragen wetan Koramil 01/Sragen mengunjungi sekolah TK Pertiwi Kel.Sragen wetan untuk mensosialisasikan stop bullying kepada anak – anak sambil bermain, Selasa ( 10/12/2024 .
“ Maraknya kasus bullying pada anak seharusnya membuka mata semua orangtua dan pemerhati anak untuk menanggapi bullying dengan lebih serius. Pasalnya bullying bukan hanya bisa dialami oleh remaja, tapi juga oleh anak usia dini, misalnya anak-anak yang baru saja memasuki sekolah TK “ Kata Daryanto.
Daryanto menjelaskan bahwa bullying yang dialami oleh anak-anak usia dini seperti anak-anak TK berbeda dengan bullying yang dialami oleh anak-anak remaja pada umumnya.
Menurutnya, perilaku bullying pada anak usia dini lebih jelas dan lebih mudah dikenali. Daryanto menjelaskan bahwa perilaku bullying pada anak usia dini berupa tindakan sangat langsung dan identitas pelaku mudah sekali diketahui.
Hal ini berbeda dengan perilaku bullying pada anak yang beranjak dewasa seperti anak-anak remaja yang lebih tertutup dan terkesan sangat rahasia. Kondisi tersebut membuat para guru dan orangtua murid kesulitan mengetahuinya.
Banyak sekali faktor yang membentuk anak menjadi pelaku bullying. Pada usia dini, seperti saat anak-anak memasuki usia TK dan SD, anak-anak memang masih mengembangkan keterampilan emosional, kognitif, dan sosial yang diperlukan untuk menangani konflik dengan teman-temannya saat mereka bersama.
“ Misalnya, anak-anak akan cenderung bersikap agresif saat mainannya diambil secara paksa oleh temannya dengan cara mendorong, atau perilaku agresif lainnya “ Jelas Daryanto.
“ Perilaku seperti ini pun masih dianggap wajar dan biasa bagi anak-anak Tk maupun SD. Namun, jika perilaku tersebut berkembang menjadi perilaku intimidasi yang ditandai dengan niat ingin menyakiti, niat untuk berkuasa bahkan untuk melakukan kekerasan pada anak lain, maka perilaku tersebut sudah dianggap tidak wajar dan perlu penanganan khusus “ Pungkasnya.












