Kodim Sragen – Pagi belum terlalu tinggi, Kamis (23/4). Balai Desa Mlale sudah ramai. Para ibu menggendong balita, antre di depan meja Posyandu Melati. Di antara kader kesehatan, tampak seragam loreng milik Serka La Ode Babinsa Koramil 11/Jenar Kodim 0725/Sragen.
Hari itu bukan jadwal latihan atau patroli. Serka La Ode turun dengan buku catatan kecil. Tugasnya: mendata bayi dan balita yang masuk kategori rawan gizi. “Monggo, Bu. Dede-nya ditimbang dulu,” ujarnya ramah sambil membantu kader posyandu.
Angka timbangan dicatat, lingkar lengan diukur, lalu dicocokkan dengan Kartu Menuju Sehat. Dari 42 balita yang hadir, tiga di antaranya ditemukan berat badan kurang dan masuk garis kuning. Namanya langsung dicatat Serka La Ode.
“Ini kita data, Bu. Nanti kita pantau bareng Bu Bidan. Jangan sampai jatuh ke gizi buruk,” katanya ke ibu si anak.
Bidan Desa, Yuni Astuti, A.Md.Keb, mengaku terbantu. “Pak Babinsa telaten. Bantu nimbang, bantu nyatet, bantu edukasi orang tua. Kalau didampingi TNI, ibu-ibu lebih nurut datang ke Posyandu,” ujarnya.
Bagi Serka La Ode, stunting dan gizi buruk adalah ancaman serius. “Ini generasi penerus. Kalau gizinya kurang dari kecil, masa depan desa juga suram. Makanya harus dikawal dari sekarang,” tegasnya.
Usai pendataan, Babinsa tak langsung pulang. Ia duduk lesehan bersama ibu-ibu, mengobrol soal pentingnya MPASI, kebersihan, dan jangan jajan sembarangan.
Dari Posyandu, La Ode membawa daftar tiga nama balita rawan gizi. Daftar itu akan jadi bahan pendampingan lanjutan. Kunjungan rumah, edukasi keluarga, dan koordinasi dengan puskesmas.










