Kodim sragen – Senin (04/5) pagi, di petak sawah Desa Doyong, Sertu Rohmadi, Babinsa Koramil 16/Miri, jongkok di lumpur. Tangannya cekatan mencabuti rumput teki dan eceng sawah yang tumbuh di sela tanaman padi milik Bpk. Dibyo di Dukuh Pungkruk, Rt.01 Desa Doyong Kec.Miri.
“Gulma ini musuh senyap, Pak. Kelihatannya sepele, tapi kalau dibiarkan bisa sedot 30 persen pupuk. Padi jadi kerdil, anakan sedikit, bulir gabuk,” jelas Rohmadi ke Pak Dibyo, petani pemilik lahan.
Dampak gulma memang nyata. Selain rebutan hara dan air, gulma jadi sarang hama wereng dan tikus. Cahaya matahari ke tanaman padi juga terhalang. Akibatnya, produktivitas bisa anjlok 1-2 ton per hektar. Jika 1 hektar rugi 2 ton, petani kehilangan Rp12 juta.
Targetnya 8 hektar sawah harus bersih dalam 2 hari.“Babinsa tidak boleh hanya apel di kantor. Saat padi butuh dirawat, kami harus ada di sawah. Ini soal perut rakyat. Ketahanan pangan dimulai dari petakan sawah,” tegas Rohmadi sambil mengangkat seikat gulma.
Pak Dibyo, 58, mengaku kewalahan jika cabut sendiri. “Tenaga saya sudah tua. Upah orang mahal. Alhamdulillah Pak Babinsa ngajak gotong royong. Sehari kelar. Padinya jadi lega, tidak sesak,” ucapnya.
Metode yang dipakai kombinasi, gasrok untuk lahan luas, cabut manual untuk yang dekat rumpun padi. Untuk gulma bandel seperti teki, Rohmadi koordinasi dengan PPL bawa herbisida selektif. Dosis dijaga agar padi tidak stres.
“TNI lahir dari rakyat. Saat rakyat butuh pangan, TNI wajib kawal. Cabut gulma kelihatan kecil, tapi dampaknya ke stok beras nasional,” ujarnya.












