KODIM SRAGEN – Upaya menekan angka stunting terus digencarkan hingga tingkat desa. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, kader dan aparat kewilayahan menjadi salah satu kunci agar penanganan stunting dapat dilakukan secara tepat sasaran.
Dalam forum tersebut, Serma Warsono, Bati Tuud Koramil 17/Sumberlawang, turut hadir bersama unsur lintas sektor untuk membahas dan mengevaluasi upaya penanganan stunting di Desa Mojopuro.
Rembug tersebut menjadi momentum untuk melihat kembali perkembangan penanganan stunting sekaligus memperkuat koordinasi antarunsur yang terlibat. Evaluasi diperlukan agar berbagai program yang telah dilakukan dapat diketahui efektivitasnya dan langkah penanganan berikutnya dapat disusun dengan lebih tepat.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa persoalan stunting membutuhkan penanganan secara bersama-sama. Tidak cukup hanya mengandalkan sektor kesehatan, tetapi juga diperlukan dukungan pemerintah desa, keluarga, kader masyarakat serta unsur kewilayahan.
Dalam forum evaluasi, koordinasi menjadi bagian penting untuk memastikan masyarakat, khususnya keluarga yang memiliki balita, mendapatkan perhatian dan pendampingan sesuai kebutuhannya. Peran kader Posyandu dan bidan desa juga menjadi penting dalam mendukung upaya pemantauan tumbuh kembang anak serta edukasi kepada keluarga.
Serma Warsono turut mendukung upaya lintas sektor tersebut sebagai bentuk kepedulian aparat kewilayahan terhadap persoalan sosial dan kesehatan masyarakat di wilayah binaan.
Melalui kegiatan rembug dan evaluasi secara berkala, setiap unsur diharapkan dapat mengetahui perkembangan penanganan stunting di Desa Mojopuro. Jika ditemukan kendala dalam pelaksanaan program, persoalan tersebut dapat segera dikoordinasikan untuk dicarikan solusi bersama.
Pemerintah desa juga memiliki peran strategis dalam mendukung program pencegahan stunting melalui pemberdayaan masyarakat dan penguatan kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan serta kesejahteraan keluarga.
Sementara itu Menurut Warsono, keberadaan kader Posyandu di tengah masyarakat menjadi ujung tombak dalam membantu memberikan edukasi dan pendampingan. Komunikasi antara kader, bidan, pemerintah desa dan keluarga diharapkan semakin intensif sehingga potensi masalah pertumbuhan anak dapat diketahui lebih awal.












