Kodim Sragen – Langkah kaki Serma Sri Widodo terhenti di pematang kolam milik Warno, warga Desa Tegalombo, Kamis (23/04/2026) pagi. Bukan untuk patroli, tapi untuk memberi semangat. “Jangan kendor, Pak. Budidaya ikan ini masa depan, Kalau gagal sekali, bukan berarti selamanya,” ujar Sri Babinsa Koramil 15/Gemolong Kodim 0725/Sragen itu sambil ikut menaburkan pelet ke kolam lele.
Warno tersenyum kecut. Dua bulan lalu, ia hampir menjual seluruh kolamnya. Harga pakan melambung, sementara ikan banyak yang mati kena penyakit jamur. Rugi sudah jutaan. Kehadiran Babinsa yang rutin sambang jadi titik balik. Bukan bantu uang, tapi bantu mental dan ilmu.
Sri Widodo mengajak Warno mencoba pakan alternatif maggot BSF, mengajari cara manajemen air, hingga menghubungkannya dengan PPL Perikanan. “Pak Tentara itu sering mampir. Ngasih ide, ngajak ngobrol. Lama-lama saya semangat lagi. Sekarang pakai maggot, biaya pakan turun 30 persen,” tutur Warno.
Bagi Sri Widodo, mendampingi peternak ikan sama pentingnya dengan mendampingi petani padi. “Ketahanan pangan bukan cuma beras. Ikan itu protein murah untuk warga. Kalau peternak semangat, gizi anak-anak desa juga terjamin,” tegasnya.
Danramil Gemolong menyebut, Babinsa memang diinstruksikan mengawal semua sektor produktif. Dari sawah, kolam, sampai UMKM. Tujuannya agar ekonomi desa berputar dan warga tidak urbanisasi.Kini, kolam Wagiman kembali bergeliat. Benih lele baru sudah ditebar.










