Desember 2016 melaksanakn upacara Bendera sebagai salah satu rangkaian dari
penyelenggaraan Peringatan Hari Ibu (PHI) ke-88 Tahun 2016 yang dilaksanakan di
Halaman depan Makodim 0725/Sragen.
menjadi Irup ( Inspektur Upacara ), Danramil 15/Gemolong Kapten Inf Suratno
sebagai Dan Upc ( Komandan Upacara ), Pengibar bendera dari anggota Sub Den Pom
IV 4-1 Sragen Serma Budi Harso, Serda Supriyadi dan Serda Retno Waluyo, Pembaca
UUD 1945 Serda Muslih, Pembaca sejarah PNS Puji Lestari dan PNS Widi Astuti.
Letkol Inf Denny Marantika, Kakanminvetcad IV/31 Sragen Mayor Inf Joko
Sutrisno, Dansub Denpom IV 4-1 Sragen Kapten Cpm Yohanes Sigit, Para pasi Dim 0725/
Sragen, Para Danramil jajaran Kodim 0725/Sragen serta 197 Anggota.
Anak Republik Indonesia Ibu Yohana Yembise bahwa Peringatan
Hari Ibu setiap tahunnya diselenggarakan untuk mengenang dan menghargai
perjuangan kaum perempuan Indonesia, yang telah berjuang bersama-sama kaum
laki-laki dalam merebut kemerdekaan dan berjuang meningkatkan kualitas
hidupnya. Inilah yang membedakan Hari Ibu di Indonesia dengan Peringatan
“Mother Days” di beberapa negara di dunia. Hari Ibu di Indonesia dilandasi oleh tekad dan perjuangan kaum perempuan untuk mewujudkan
kemerdekaan dilandasi oleh cita-cita dan semangat persatuan kesatuan menuju
kemerdekaan Indonesia yang aman, tenteram, damai, adil, dan makmur sebagaimana
dideklarasikan pertama kali dalam Kongres Perempuan Indonesia pada tanggal 22
Desember 1928 di Yogyakarta.
tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia dan diperingati setiap tahunnya sebagai
Hari Ibu, baik di dalam maupun luar negeri. Komitmen pemerintah juga dibuktikan
dengan diterbitkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun
1959, yang menetapkan bahwa tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu sekaligus Hari
Nasional bukan hari libur.
perjuangan kaum perempuan Indonesia, telah menempuh proses yang sangat panjang
dalam mewujudkan persamaan peran dan kedudukannya dengan kaum laki-laki,
mengingat keduanya merupakan sumber daya potensial yang menentukan keberhasilan
pembangunan. Momentum Hari Ibu juga dijadikan sebagai refleksi dan renungan
bagi kita semua, tentang berbagai upaya yang telah dilakukan dalam rangka memajukan
pergerakan perempuan di semua bidang pembangunan. Perjalanan panjang selama 88
tahun, telah mengantarkan berbagai keberhasilan bagi kaum perempuan dan kaum
laki-laki dalam menghadapi berbagai tantantan global dan multi dimensi,
khususnya perjuangan untuk mewujudkan kesetaraan gender di Indonesia.
Sementara itu di era kekinian, Peringatan Hari Ibu diharapkan dapat mewariskan
nilai-nilai luhur dan semangat perjuangan yang terkandung dalam sejarah
perjuangan kaum perempuan kepada seluruh masyarakat Indonesia, terutama
generasi penerus bangsa agar mempertebal tekad dan semangat unfuk bersama-sama
melanjutkan dan mengisi pembangunan dengan dilandasi semangat persatuan dan
kesatuan.
kedudukan yang setara di dalam mencapai tujuan negara serta di dalam
memperjuangkan kesejahteraan di semua bidang pembangunan seperti bidang
pendidikan, ekonomi, sosial, politik, dan hukum. Perempuan dan laki-laki juga
mempunyai kesempatan, akses serta peluang yant sama sebagai sumber daya
pembangunan.
dicapai dalam tujuan pembangunan nasional, baik jangka menengah dan jangka
panjang ataupun target goals dari Suistainable
2030 mendatang. Dengan mempertimbangkan kondisi dan isu-isu prioritas saat ini,
PHI ke- 88 Tahun 2016 mengangkat tema “Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan
untuk Mewujudkan Indonesa yang Bebas dari Kekerasan terhadap Perempuan dan
Anak, Perdagangan Orang dan Kesenjangan Akses Ekonomi terhadap Perempuan.”
masyarakat saat ini, manakala persoalan kekerasan, perdagangan orang dan
kesenjangan akses ekonomi perempuan, masih sangat tertinggal dibandingkan
laki-laki. Berbicara kekerasan dan perdagangan orang (humon trafficking), saat
ini juga menjadi salah satu perhatian yang sangat serius dari pemerintah.
Korban terbesar dari kasus-kasus kekerasan dan perdagangan orang, baik yang
terlaporkan ataupun tidak terlaporkan adalah perempuan dan anak. Maraknya
kekerasan khususnya kejahatan seksual terhadap anak juga menjadi permasalahan
bangsa, yang harus segera dituntaskan oleh berbagai kalangan. Hal ini mengingat
bahwa anak adalah tunas muda harapan bangsa, yang kelak akan melanjutkan
tongkat estafet kepemimpinan bangsa di masa mendatang.
globalisasi dunia yang tenrs berjalan, saat ini pun peran dan kontribusi
perempuan dalam pembangunan tidak dapat dipungkiri lagi. Di Indonesia, saat ini
telah banyak kaum perempuan yang memiliki peran dan posisi strategis di
berbagai kehidupan. Hal ini membuktikan bahwa perempuan apabila diberi peluang
dan kesempatan mampu meningkatkan kualitas hidupnya secara mandiri. Perempuan
dalam berbagai dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara juga mampu menjadi
motor penggerak dan motor perubahan (agent of
change).
tidak terlepas dari dukungan semua pihak, baik pemerintah, dunia usaha ataupun
masyarakat. Untuk itu, semua rangkaian kegiatan dalam penyelenggaraan
Peringatan Hari Ibu ke-88 Tahun 2016 ini diharapkan mampu berjalan sesuai
dengan prinsip “equal partnership”. Prinsip ini mencerminkan bagaimana
perempuan Indonesia bersama kaum laki-laki berperan membangun bangsa, sekaligus
juga berperan aktif membangun kesejahteraan dan menjalin hubungan yang erat
dengan berbagai bangsa di dunia, baik di tingkat regional maupun internasional
Pada kesempatan PHI ke-88 Tahun 2016 ini, kami juga ingin menyampaikan bahwa
pelibatan dan peningkatan peran kaum lakilaki dan keluarga dalam pembangunan,
juga menjadi bagian yang penting dalam rangka penghapusan segala bentuk
diskriminasi dan tindak kekerasan lainnya serta berbagi upaya untuk mewujudkan
kesejahteraan bangsa. Pelibatan laki-laki dalam berbagai upaya untuk mewujudkan
kesetaraan gender juga sejalan dengan dideklarasikan kampanye global “He
for She” di mana Bapak Presiden Joko Widodo, menjadi salah satu dari 10
(sepuluh) Kepala Negara di dunia yang didaulat untuk menjadi duta kampanye.
Tentunya ini membawa makna positif bagi bangsa Indonesia, untuk terus
menggaungkan pentingnya kesetaraan gender dalam berbagai dimensi pembangunan
dan kehidupan masyarakat.
keluarga juga menjadi bagian yang harus “dikampanyekan” kembali dalam
sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Apabila kita cermati bersama,
maraknya berbagai persoalan bangsa dan kompleksitas masalah-masalah sosial yang
terjadi di masyarakat seperti : kekerasan, traficking, p0rn0grafi, Infeksi
Menular Seksual dan HIV/AIDS, narkoba, kriminalitas dan lainnya disebabkan
karena runtuhnya pondasi ketahanan dalam keluarga. Untuk itu ketahanan keluarga
(melalui penanaman nilai-nilai budi pekerti dan iman dan takwa) menjadi salah
satu pilar untuk menjawab dan mengatasi berbagai masalah sebagaimana tersebut
di atas. Peran keluarga dituntut untuk lebih diperkuat, dibarengi dengan
penanaman nilai-nilai kekeluargaan. Pentingnya peran keluarga, apabila dipahami
secara mendalam telah diwariskan oleh para leluhur kita sejak puluhan tahun
yang lalu.
khususnya kaum perempuan Indonesia untuk terus berkarya, mampu menjaga sosok
yang mandiri, kreatif, inovatif, percaya diri dan meningkatkan kualitas
dan kapabilitas dirinya, sehingga bersama lakilaki menjadi kekuatan yang besar
dalam membangun bangsa.
Tuhan Yang Maha Esa, senantiasa melindungi semua langkah dan perjuangan dalam
membangun bangsa dan negara tercinta.












