Kodim Sragen- Mentari pagi baru saja menyibak kabut tipis di Desa Puro, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen.
Suara cangkul, gesekan sekop, dan derap langkah para anggota Satgas TMMD bercampur dengan tawa warga yang sejak pagi telah berkumpul di lokasi pembangunan. Di tengah suasana penuh semangat itu, apel pagi digelar sederhana namun sarat makna.
Bati Tuud Koramil 02 Karangmalang, Pelda Budi, berdiri di hadapan anggota Satgas TMMD Reguler ke-128 dan masyarakat dengan suara lantang yang membakar semangat pengabdian.Tidak sekadar memberikan arahan, ia menanamkan nilai kebersamaan dan keikhlasan dalam setiap pekerjaan yang dilakukan.
“Program TMMD ini bukan hanya milik TNI, tetapi milik kita bersama.Saya mohon seluruh warga dan anggota Satgas bekerja dengan ikhlas demi kemajuan masyarakat Puro dan sekitarnya,” tegasnya.(Jum’at)15/5/2026.
Kalimat itu sederhana, namun menggugah hati. Di lokasi TMMD, tak terlihat batas antara seragam loreng dan pakaian warga desa. Semua menyatu dalam satu tujuan, membangun harapan melalui kerja nyata.
Usai apel, suasana berubah menjadi lautan gotong royong.Warga tua, pemuda, hingga anggota Satgas bahu membahu mengangkat batu padas, meratakan material pembereman jalan, dan membersihkan area pekerjaan.
Debu beterbangan di bawah terik matahari, namun tak sedikit pun menyurutkan semangat mereka.
Bagi masyarakat Desa Puro, TMMD bukan hanya tentang pembangunan fisik semata. Jalan yang diperbaiki memang akan mempermudah akses warga, memperlancar aktivitas ekonomi, dan membuka konektivitas antardesa. Namun lebih dari itu, TMMD menghadirkan kembali ruh kebersamaan yang mulai jarang ditemui di tengah kehidupan modern.
Menjelang kunjungan Danrem 074/Warastratama, Dandim Sragen, dan Bupati Sragen, Pelda Budi kembali mengingatkan pentingnya menjaga kekompakan hingga pekerjaan selesai.
“Seluruh elemen masyarakat harus terus gotong royong dan saling membantu menyelesaikan pembereman ini. Jangan ada yang mendahului meninggalkan pekerjaan sebelum kegiatan selesai,” ujarnya penuh semangat.
Arahan itu langsung disambut antusias. Tanpa komando berulang, warga bergerak semakin kompak. Sebagian mengangkut batu, sebagian lagi menata material, sementara anggota Satgas membantu memastikan pekerjaan berjalan rapi dan cepat.
Kebersamaan itu menjadi pemandangan yang menghangatkan hati potret nyata kemanunggalan TNI dan rakyat.
Di balik kerasnya pekerjaan fisik, tersimpan nilai luhur tentang pengabdian. Para prajurit rela meninggalkan keluarga demi membantu masyarakat desa.
Sementara warga dengan sukarela menyumbangkan tenaga dan waktu demi kemajuan lingkungan mereka sendiri.
TMMD Reguler ke-128 Kabupaten Sragen membuktikan bahwa pembangunan sejati tidak hanya diukur dari panjang jalan atau kokohnya infrastruktur.
Lebih dari itu, pembangunan sejati lahir dari persatuan, kepedulian, dan semangat gotong royong yang hidup di tengah masyarakat.
Program ini menjadi pengingat bahwa bangsa Indonesia dibangun oleh kekuatan kebersamaan. Ketika TNI dan rakyat bersatu, tidak ada pekerjaan yang terlalu berat untuk diselesaikan.
Di tengah debu pembangunan dan panas matahari desa, TMMD hadir membawa pesan besar: membangun jalan untuk masa depan, sekaligus membangun harapan dan persaudaraan yang akan terus hidup dari generasi ke generasi.(Sutardi).












