Sragen, 23 Maret 2017
Untuk
meningkatkan iman dan taqwa anggota Persit KCK Cab. XLVI Kodim 0725/Sragen, Ibu
Ketua Persit Ny. Dita Camas Sigit Prasetyo menggelar pengajian rutin dengan
penceramah Serma Ahmad Agus dari anggota Koramil-12/Gesi bertempat di Masjid Al
Huda, Kamis ( 23/3/17 ).
meningkatkan iman dan taqwa anggota Persit KCK Cab. XLVI Kodim 0725/Sragen, Ibu
Ketua Persit Ny. Dita Camas Sigit Prasetyo menggelar pengajian rutin dengan
penceramah Serma Ahmad Agus dari anggota Koramil-12/Gesi bertempat di Masjid Al
Huda, Kamis ( 23/3/17 ).
Ibu Ketua juga
menambahkan bahwa “Kegiatan Pengajian bulanan selain merupakan agenda rutin
yang dilaksanakan dengan tujuan untuk menjalin hubungan silaturrahmi antar
ibu-ibu Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XLVI Kodim 0725/Sragen juga
sebagai salah satu cara meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, serta memberikan pembinaan mental kepada seluruh Persit didalam
mendukung tugas suami.
menambahkan bahwa “Kegiatan Pengajian bulanan selain merupakan agenda rutin
yang dilaksanakan dengan tujuan untuk menjalin hubungan silaturrahmi antar
ibu-ibu Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XLVI Kodim 0725/Sragen juga
sebagai salah satu cara meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, serta memberikan pembinaan mental kepada seluruh Persit didalam
mendukung tugas suami.
Sebelum
ceramah dimulai, diawali dengan pembacaan Asmaul Husna dan Sholawat Nabi, dalam
ceramahnya Ahmad Agus menyampaikan tentang
Ikhlas
ialah, menghendaki keridhaan Allah dalam suatu amal, membersihkannya dari
segala individu maupun duniawi. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amal,
kecuali karena Allah dan demi hari akhirat. Tidak ada noda yang mencampuri
suatu amal, seperti kecenderungan kepada dunia untuk diri sendiri, baik yang
tersembunyi maupun yang terang-terangan, atau karena mencari harta rampasan
perang, atau agar dikatakan sebagai pemberani ketika perang, karena syahwat,
kedudukan, harta benda, ketenaran, agar mendapat tempat di hati orang banyak,
mendapat sanjungan tertentu, karena kesombongan yang terselubung, atau karena
alasan-alasan lain yang tidak terpuji; yang intinya bukan karena Allah, tetapi
karena sesuatu; maka semua ini merupakan noda yang mengotori keikhlasan.
ceramah dimulai, diawali dengan pembacaan Asmaul Husna dan Sholawat Nabi, dalam
ceramahnya Ahmad Agus menyampaikan tentang
Ikhlas
ialah, menghendaki keridhaan Allah dalam suatu amal, membersihkannya dari
segala individu maupun duniawi. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amal,
kecuali karena Allah dan demi hari akhirat. Tidak ada noda yang mencampuri
suatu amal, seperti kecenderungan kepada dunia untuk diri sendiri, baik yang
tersembunyi maupun yang terang-terangan, atau karena mencari harta rampasan
perang, atau agar dikatakan sebagai pemberani ketika perang, karena syahwat,
kedudukan, harta benda, ketenaran, agar mendapat tempat di hati orang banyak,
mendapat sanjungan tertentu, karena kesombongan yang terselubung, atau karena
alasan-alasan lain yang tidak terpuji; yang intinya bukan karena Allah, tetapi
karena sesuatu; maka semua ini merupakan noda yang mengotori keikhlasan.
Landasan niat
yang ikhlas adalah memurnikan niat karena Allah semata. Setiap bagian dari
perkara duniawi yang sudah mencemari amal kebaikan, sedikit atau banyak, dan
apabila hati kita bergantung kepadanya, maka kemurniaan amal itu ternoda dan
hilang keikhlasannya. Karena itu, orang yang jiwanya terkalahkan oleh perkara
duniawi, mencari kedudukan dan popularitas, maka tindakan dan perilakunya
mengacu pada sifat tersebut, sehingga ibadah yang ia lakukan tidak akan murni,
seperti shalat, puasa, menuntut ilmu, berdakwah dan lainnya.
yang ikhlas adalah memurnikan niat karena Allah semata. Setiap bagian dari
perkara duniawi yang sudah mencemari amal kebaikan, sedikit atau banyak, dan
apabila hati kita bergantung kepadanya, maka kemurniaan amal itu ternoda dan
hilang keikhlasannya. Karena itu, orang yang jiwanya terkalahkan oleh perkara
duniawi, mencari kedudukan dan popularitas, maka tindakan dan perilakunya
mengacu pada sifat tersebut, sehingga ibadah yang ia lakukan tidak akan murni,
seperti shalat, puasa, menuntut ilmu, berdakwah dan lainnya.










