KOdim Sragen – Selasa (28/4) siang, di warung sederhana Bapak Topo Dk Ngeseng RT 19 RW 3 Kel Kwangen. Bukan ada hajatan, tapi ada Serda Ibrahim, yang datang silaturahmi. Teh hangat dan pisang goreng jadi teman obrolan.
“Pripun, Pak Topo? Kira-kira kondisi warga pripun? Ada yang perlu kami bantu?” tanya Serda Ibrahim membuka komsos.
Bagi Serda Ibrahim, tokoh masyarakat bukan sekedar mitra. Mereka dapat tempat khusus di hati Babinsa. Sebab dari tomas, toga, dan toda, Babinsa bisa membaca denyut nadi kampung yang sesungguhnya.
“Saya tidak mungkin hafal semua masalah warga. Tapi kalau sudah kenal akrab dengan Pak Topo, Pak Kadus, Pak Ketua RW, info apapun cepat masuk. Ada warga sakit, ada anak muda mulai nakal, ada bantuan salah sasaran, saya langsung tahu,” ujar Ibrahim.
Pak Topo, tokoh Masyarakat sekaligus sesepuh desa, mengaku hubungan dengan Babinsa sudah seperti anak-bapak. “Pak Babinsa itu enak diajak rembug. Tidak kaku. Datang ke rumah, duduk lesehan, takon kabar. Jadi kalau ada masalah, saya tidak sungkan cerita,” katanya.
Rangkul, dengarkan, libatkan. Kalau tomas sudah di hati Babinsa, otomatis warganya ikut di hati Babinsa,” Ucap Ibrahim.
Ibrahim, menempatkan tokoh masyarakat di hati adalah strategi pembinaan teritorial paling ampuh. “Dari hati ke hati, lahir kepercayaan. Kalau sudah percaya, desa ini aman tanpa diminta,” pungkasnya.












