Kodim Sragen – Rabu (29/4) siang, usai apel di Koramil, Pelda Raden Jumarno Babinsa Koramil 18/Kalijambe Kodim 0725/Sragen, tidak langsung pulang. Ia belokkan motor ke Dukuh Padas Rt.09 Desa Ngebung.
Tujuannya untuk anjangsana ke rumah warga.“Assalamualaikum, Mbah Karto. Sehat, Mbah?” sapa Jumarno sambil melepas sepatu di depan rumah milik Mbah Karto, 75 tahun, yang hidup sebatang kara. Duduk di kursi kayu, ngobrol santai, tanya kabar, dengar keluhan.
Begitulah rutinitas Jumarno hampir tiap hari. Bagi Babinsa, anjangsana atau silaturahmi ke rumah warga adalah cara paling ampuh menjaga hubungan dengan masyarakat.“Kalau cuma ketemu di balai desa, jaraknya jauh. Tapi kalau kita datang ke rumah, duduk lesehan, minum teh bareng, warga jadi terbuka. Kita tahu masalah sebenarnya,” ujar Jumarno.
Hari itu, 3 rumah ia sambangi. Rumah Mbah Karto, rumah Bu Sumi yang anaknya sakit, dan rumah Pak Hartoyo yang mau hajatan. Di tiap rumah, ada cerita. Mbah Karto curhat atap bocor. Bu Sumi minta info BPJS. Pak Hartoyo minta tolong Babinsa bantu pengamanan.
Semua dicatat Jumarno di buku saku. “Besok saya lapor Danramil soal atap Mbah Karto, mungkin bisa masuk program bedah RTLH. Bu Sumi saya hubungkan dengan bidan desa,” katanya.
Mbah Karto mengaku senang. “Seneng rasane didatangi Pak Tentara. Ora sombong. Gelem ngrungokne wong tuwo koyo aku. Rasane nduwe anak sing merhatekke,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Danramil 18/Kalijambe, menegaskan anjangsana adalah rohnya Babinsa. “Babinsa hebat bukan yang gagah di kantor, tapi yang hafal dapurnya warga. Kemanunggalan TNI-Rakyat itu dibangun dari pintu ke pintu, dari hati ke hati,” tegasnya.
Dari anjangsana, Babinsa dapat deteksi dini. Isu kecil bisa dicegah sebelum jadi konflik. Warga butuh bantuan bisa cepat direspons. Data teritorial pun selalu update.
Jumarno tak hitung waktu. Kadang pagi, kadang malam, kadang hari libur. “Warga tidak kenal jam dinas. Kalau butuh, kita harus ada. Karena bagi mereka, Babinsa itu keluarga,” ucapnya.












